NAWA CETANA DALAM UTTAMOPADESA

Nawa Cetana Uttamopadesa

Sembilan Tataran Kesadaran Manusia.

Dalam ajaran Kawruh Uttamopadesa, kesadaran merupakan bagian penting dalam memahami kehidupan manusia. Manusia tidak hanya hidup dengan tubuh dan berbagai kebutuhan jasmaninya, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menyadari, mengamati, memahami, menimbang, memilih, dan menentukan tindakan. Kemampuan inilah yang dalam ajaran Uttamopadesa disebut Cetana, yaitu kesadaran.

Namun, kesadaran manusia tidak selalu berada dalam keadaan yang sama. Ada kesadaran yang masih mudah terikat oleh keinginan, ketakutan, kepentingan pribadi, prasangka, dan berbagai dorongan dalam dirinya. Ada pula kesadaran yang semakin waspada, jernih, teguh, luas, mampu memahami rasa, memperoleh pepadhang, menjadi resik, hingga mencapai keadaan manunggal. Perbedaan kualitas tersebut dijelaskan dalam Nawa Cetana, yaitu sembilan tataran kesadaran dalam ajaran Uttamopadesa.

Nawa Cetana tidak dimaksudkan sebagai sembilan kesadaran yang terpisah. Kesembilan istilah tersebut merupakan gambaran mengenai perkembangan kualitas kesadaran manusia, dari keadaan yang masih terikat hingga keadaan kesadaran yang semakin utuh dan selaras.

Kedudukan Nawa Cetana dalam Ajaran Uttamopadesa.
Penting untuk memahami kedudukan Nawa Cetana secara tepat. Nawa Cetana merupakan bagian dari kawruh dalam ajaran Uttamopadesa, bukan istilah yang harus ditempatkan sebagai bagian langsung dari definisi Kawruh Sejati.

Kawruh Sejati merupakan pengertian mengenai kenyataan yang menjadi dasar pemahaman, sedangkan Kawruh Uttamopadesa merupakan sistem ajaran yang memberikan berbagai penjelasan, tahapan, dan laku untuk memahami serta menjalani kehidupan berdasarkan kawruh tersebut.

Karena itu, Nawa Cetana berada dalam struktur ajaran Uttamopadesa sebagai salah satu kerangka untuk memahami perkembangan kesadaran manusia.

Dalam struktur yang lebih luas, Nawa Cetana berhubungan dengan konsep lain seperti Nawa Prabodha, Nawa Samadhi, dan Lampah Uttamopadesa. Masing-masing mempunyai kedudukan dan fungsi yang berbeda, sehingga tidak seharusnya dicampur menjadi satu pengertian.

“Tuwuhipun cetana dipun gulawenthah lumantar laku eling, mawas dhiri, ngresiki cipta, ngalusaken rasa, ngarahaken karsa tumuju kabecikan, saha ngrembakakaken sih dhateng sapepadha lan sadaya dumadi.”

- Uttamopadesa -

Apa Itu Cetana?
Cetana berarti kesadaran. Kesadaran merupakan kemampuan manusia untuk menyadari keberadaan dirinya, keadaan di sekelilingnya, serta berbagai gerak yang berlangsung dalam dirinya.

Melalui cetana, manusia dapat menyadari bahwa dirinya sedang berpikir, merasakan sesuatu, menghendaki sesuatu, mengambil keputusan, dan melakukan tindakan. Kesadaran juga memungkinkan manusia mengamati apa yang terjadi dalam dirinya sehingga ia tidak sepenuhnya menjadi korban dari dorongan yang muncul secara spontan.

Akan tetapi, memiliki kesadaran tidak otomatis berarti kesadaran tersebut telah terbangun secara sempurna. Seseorang dapat mengetahui bahwa dirinya sedang marah, iri, takut, atau serakah, tetapi tetap membiarkan dirinya dikuasai keadaan tersebut.

Karena itu, ajaran Uttamopadesa membahas perkembangan kualitas kesadaran melalui Nawa Cetana.

Sembilan Tataran Nawa Cetana.
1. Cetana Kaiket.
Cetana Kaiket adalah kesadaran yang masih terikat. Kesadaran pada tahap ini mudah dipengaruhi oleh keinginan, kepentingan pribadi, kebiasaan, prasangka, ketakutan, kemarahan, dan dorongan lain yang belum tertata.

Manusia sebenarnya sudah memiliki kemampuan untuk menyadari apa yang dilakukannya, tetapi kesadarannya belum cukup kuat untuk mengamati dan mengendalikan berbagai dorongan tersebut.

Pada keadaan ini, seseorang sering mengetahui bahwa sesuatu tidak baik, tetapi tetap melakukannya karena kesadarannya masih terikat oleh kepentingan atau dorongan tertentu.

2. Cetana Waspada.
Dari keadaan yang masih terikat, kesadaran dapat berkembang menjadi Cetana Waspada. Pada tahap ini manusia mulai mampu memperhatikan gerak dirinya sendiri.

Ia mulai bertanya mengapa dirinya berpikir demikian, mengapa muncul rasa tertentu, dan mengapa dirinya ingin melakukan sesuatu. Perhatian tidak lagi hanya diarahkan kepada dunia di luar dirinya, tetapi juga kepada keadaan dirinya sendiri.

Waspada dalam konteks ini bukan berarti hidup dalam ketakutan. Waspada berarti hadir dan sadar terhadap apa yang sedang berlangsung dalam diri sebelum pikiran, rasa, atau kehendak berubah menjadi tindakan.

3. Cetana Wening.
Cetana Wening menunjukkan kesadaran yang mulai menjadi jernih. Kesadaran tidak lagi mudah dikaburkan oleh prasangka, kepentingan, dan gejolak batin.

Wening bukan berarti tidak mempunyai pikiran atau perasaan. Wening berarti mampu melihat pikiran dan perasaan tanpa langsung dikendalikan olehnya.

Pada tahap ini manusia mulai mampu membedakan antara kenyataan dengan penafsiran dirinya sendiri. Ia belajar melihat sesuatu dengan lebih tenang sebelum memberikan penilaian.

4. Cetana Mantep.
Cetana Mantep adalah kesadaran yang semakin teguh. Setelah menjadi waspada dan wening, kesadaran tidak mudah berubah hanya karena tekanan keadaan atau dorongan sesaat.

Mantep tidak berarti keras kepala. Kemantapan justru lahir dari pemahaman yang cukup jernih sehingga seseorang mampu berdiri pada apa yang diyakininya benar tanpa harus mempertahankan keakuan.

Kesadaran yang mantep membuat manusia lebih konsisten dalam menata cipta, rasa, dan karsanya.

5. Cetana Kawawas.
Cetana Kawawas adalah kesadaran yang semakin mampu mengamati secara luas. Manusia mulai melihat sesuatu bukan hanya dari kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga memperhatikan hubungan antara dirinya, orang lain, keadaan, dan akibat dari tindakan yang dilakukan.

Kawawas menunjukkan berkembangnya kemampuan untuk melihat dan mengamati secara lebih mendalam. Manusia tidak berhenti pada pertanyaan mengenai apa yang terjadi, tetapi mulai memahami bagaimana sesuatu terjadi dan apa akibat yang mungkin ditimbulkannya.

Pada tahap ini, pandangan kesadaran mulai keluar dari keterbatasan sudut pandang pribadi.

6. Cetana Pangrasa.
Cetana Pangrasa merupakan kesadaran yang semakin mampu memahami rasa. Rasa tidak sekadar dibiarkan menjadi gejolak yang menguasai diri, tetapi mulai dikenali, diamati, dan dipahami.

Kesadaran pangrasa memungkinkan manusia memahami keadaan dirinya sekaligus lebih mampu memahami keadaan orang lain. Ia dapat merasakan tanpa kehilangan kejernihan.

Dengan demikian, pangrasa bukan berarti manusia semakin larut dalam perasaan, melainkan semakin mampu menyadari dan memahami rasa secara mendalam.

7. Cetana Pepadhang.
Setelah kesadaran mampu mengamati dan memahami dengan lebih baik, berkembanglah Cetana Pepadhang, yaitu kesadaran yang memperoleh terang pemahaman.

Pepadhang tidak harus dimaknai sebagai cahaya secara fisik atau pengalaman supranatural. Dalam ajaran Uttamopadesa, pepadhang lebih tepat dipahami sebagai kejernihan pemahaman yang membuat sesuatu menjadi terang bagi kesadaran.

Manusia mulai mampu melihat hubungan antara sebab dan akibat, antara pikiran dan tindakan, serta antara keadaan batin dan perilaku kehidupannya.

Pada tahap ini, kawruh tidak berhenti sebagai pengetahuan yang disimpan dalam pikiran, tetapi mulai memberikan terang bagi cara manusia menjalani kehidupan.

8. Cetana Resik.
Cetana Resik adalah kesadaran yang semakin bersih dari berbagai hal yang mengaburkan pandangan. Resik bukan berarti manusia telah menjadi makhluk tanpa kekurangan, tetapi menunjukkan keadaan ketika kesadaran semakin mampu mengenali dan membersihkan berbagai dorongan yang menyimpangkan dirinya dari kenyataan dan tatanan kehidupan.

Kebersihan kesadaran tidak dicapai hanya melalui ritual. Dalam ajaran Uttamopadesa, kebersihan berkaitan dengan proses menata cipta, rasa, dan karsa sehingga ketiganya tidak lagi dipenuhi oleh keakuan, pamrih, prasangka, keserakahan, dan berbagai dorongan yang merusak kehidupan.

Kesadaran yang resik menghasilkan kehidupan yang semakin jujur, sederhana, tertata, dan selaras.

9. Cetana Manunggal.
Tataran terakhir adalah Cetana Manunggal, yaitu kesadaran yang mencapai keadaan menyatu dan selaras.

Manunggal tidak harus dimaknai sebagai hilangnya keberadaan manusia atau sebagai pengalaman gaib tertentu. Dalam struktur ajaran Uttamopadesa, manunggal dapat dipahami sebagai keadaan ketika tidak terjadi lagi pertentangan mendasar antara apa yang disadari, dipahami, dirasakan, dikehendaki, dan dilakukan.

Cipta, rasa, dan karsa berada dalam keselarasan. Pemahaman tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi tercermin dalam tindakan. Kesadaran terhadap kenyataan tidak hanya menjadi pembicaraan, tetapi menjadi dasar dalam menjalani kehidupan.

Karena itu, Cetana Manunggal dapat dipahami sebagai tataran kesadaran yang semakin utuh dan selaras.

Nawa Cetana dan Prabodha.
Dalam ajaran Uttamopadesa, Cetana dan Prabodha mempunyai hubungan yang erat tetapi bukan istilah yang sama.

Cetana = kesadaran.
Prabodha = kesadaran yang telah terbangun.

Dengan demikian, Nawa Cetana membahas sembilan tataran kesadaran, sedangkan Nawaprabodha membahas tahapan terbangunnya kesadaran.

Perbedaan ini penting agar struktur ajaran Uttamopadesa tetap jelas. Cetana menunjukkan kesadaran sebagai dasar, sedangkan Prabodha menunjukkan kesadaran yang mengalami proses kebangkitan dan pemahaman yang semakin dalam.

Hubungan keduanya dapat dipahami sebagai perkembangan dari kesadaran menuju kesadaran yang semakin terbangun.

Nawa Cetana Bukan Sekadar Teori.
Nilai Nawa Cetana tidak terletak pada banyaknya istilah yang dapat dihafalkan, tetapi pada kemampuannya membantu manusia melihat keadaan kesadarannya sendiri.

Jika seseorang masih mudah dikendalikan oleh kepentingan pribadi, prasangka, ketakutan, atau keserakahan, maka ia perlu menyadari bahwa kesadarannya masih berada dalam keterikatan. Jika ia mulai mampu mengamati dirinya sendiri, maka kewaspadaan mulai tumbuh. Jika ia semakin mampu melihat dengan jernih, teguh, luas, memahami rasa, memperoleh pemahaman yang terang, dan membersihkan dirinya, maka kualitas kesadarannya juga berkembang.

Dengan demikian, Nawa Cetana bukan ukuran untuk menghakimi orang lain. Nawa Cetana merupakan sarana untuk memahami dan mengoreksi diri sendiri.

Kesadaran yang berkembang seharusnya dapat terlihat dalam kehidupan. Ia terlihat dari cara seseorang berbicara, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, menghadapi persoalan, mengendalikan keinginan, dan mempertanggungjawabkan tindakannya.

Penutup.
Nawa Cetana merupakan salah satu bagian penting dari kawruh dalam ajaran Uttamopadesa yang membahas perkembangan kualitas kesadaran manusia. Kesembilan tatarannya adalah Cetana Kaiket, Cetana Waspada, Cetana Wening, Cetana Mantep, Cetana Kawawas, Cetana Pangrasa, Cetana Pepadhang, Cetana Resik, dan Cetana Manunggal.

Kesembilan tataran tersebut bukan sembilan kesadaran yang terpisah, melainkan gambaran perkembangan kesadaran dari keadaan yang masih terikat menuju keadaan yang semakin jernih, teguh, luas, terang, bersih, dan selaras.

Pada akhirnya, kesadaran tidak dibuktikan melalui istilah, pengalaman luar biasa, ataupun pengakuan seseorang terhadap dirinya sendiri. Kesadaran yang berkembang harus tercermin dalam kehidupan. Ketika kesadaran mampu menata cipta, rasa, dan karsa sehingga menghasilkan pikiran yang jernih, rasa yang tertata, kehendak yang lurus, dan tindakan yang selaras, maka kawruh tidak lagi berhenti sebagai pengetahuan, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

“Cetana inggih punika daya eling ingkang madhangi cipta, rasa, lan karsa. Cetana boten tuwuh kanthi sepisan, nanging ngrembaka sethithik mbaka sethithik lumantar pambudidayaning dhiri.”

- Uttamopadesa -

FAQ tentang Nawa Cetana dalam Uttamopadesa.
Apa itu Nawa Cetana?
Nawa Cetana adalah sembilan tataran kesadaran dalam ajaran Uttamopadesa, yang menggambarkan perkembangan kualitas kesadaran manusia.

Apa arti Cetana?
Cetana berarti kesadaran, yaitu kemampuan manusia untuk menyadari dirinya, keadaan di sekitarnya, serta berbagai gerak cipta, rasa, dan karsa.

Apa saja sembilan tataran Nawa Cetana?
Kesembilan tataran tersebut adalah Cetana Kaiket, Waspada, Wening, Mantep, Kawawas, Pangrasa, Pepadhang, Resik, dan Manunggal.

Apakah Nawa Cetana merupakan bagian dari Kawruh Sejati?
Nawa Cetana merupakan kawruh dalam ajaran Uttamopadesa. Karena itu, istilah ini sebaiknya ditempatkan secara tepat sebagai bagian dari struktur ajaran Uttamopadesa, bukan digunakan untuk mendefinisikan Kawruh Sejati secara langsung.

Apa hubungan Cetana dan Prabodha?
Cetana adalah kesadaran, sedangkan Prabodha adalah kesadaran yang telah terbangun. Nawa Cetana membahas tataran kesadaran, sedangkan Nawaprabodha membahas tahapan terbangunnya kesadaran.

Apakah Nawa Cetana berkaitan dengan hal gaib?
Tidak harus. Nawa Cetana terutama membahas perkembangan kesadaran dan kualitas kehidupan manusia, bukan pencarian kemampuan supranatural atau fenomena gaib.

Apa tujuan mempelajari Nawa Cetana?
Tujuannya adalah membantu manusia mengenali keadaan kesadarannya sendiri, memperbaiki cipta, rasa, dan karsa, serta mewujudkan kesadaran dalam kehidupan nyata.


Komentar