Mengawasi Pikiran dalam Kajian Kawruh Sejati
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa berhadapan dengan berbagai macam pikiran yang muncul silih berganti, baik berupa ingatan terhadap pengalaman yang telah dilalui, pertimbangan mengenai keadaan yang sedang dihadapi, kekhawatiran terhadap sesuatu yang belum terjadi, maupun penilaian terhadap orang lain yang terkadang terbentuk sebelum seseorang benar-benar mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.
Pikiran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia karena melalui pikiran seseorang memahami keadaan, menentukan sikap, mempertimbangkan pilihan, serta mengarahkan tindakan yang akan dilakukan.
Namun, tidak setiap pikiran yang muncul di dalam diri dapat dianggap sebagai kenyataan, sebab pikiran dapat terbentuk oleh pengetahuan yang terbatas, pengalaman masa lalu, prasangka, rasa takut, keinginan, kebiasaan, maupun kepentingan pribadi.
Atas dasar itulah Laku Wening Cipta menjadi salah satu bagian penting dalam proses pambeninging dhiri menurut kajian Kawruh Sejati Uttamopadesa.
Wening Cipta bukanlah usaha untuk menghilangkan pikiran atau membuat manusia berhenti berpikir, melainkan latihan untuk mengenali, mengamati, dan memeriksa setiap pikiran yang muncul sehingga seseorang tidak dengan tergesa-gesa menganggap pikirannya sebagai kenyataan.
Dalam laku ini, manusia belajar memberikan jarak antara apa yang terjadi dengan apa yang dipikirkannya mengenai kejadian tersebut, karena di dalam jarak itulah terdapat kesempatan untuk melihat sesuatu dengan lebih jernih.
Makna Wening Cipta.
Cipta dalam kajian ini tidak semata-mata dimaknai sebagai otak atau organ tubuh yang digunakan untuk berpikir, melainkan sebagai wilayah batin tempat munculnya pamawas, pertimbangan, dugaan, bayangan, penilaian, dan berbagai bentuk pemikiran yang kemudian dapat memengaruhi rasa serta karsa manusia.
Oleh sebab itu, ketika disebut Wening Cipta, yang dimaksud adalah keadaan ketika daya pikir seseorang tidak mudah dikuasai oleh prasangka, dugaan, ketakutan, atau kepentingan pribadi sehingga ia mampu melihat sesuatu berdasarkan kenyataan yang lebih utuh.
Kejernihan Cipta tidak berarti bahwa manusia tidak pernah memiliki pikiran buruk atau dugaan yang keliru, sebab pikiran semacam itu dapat muncul secara spontan tanpa terlebih dahulu diminta. Yang menjadi ukuran adalah bagaimana seseorang menyikapi pikiran tersebut setelah menyadarinya.
Apabila setiap pikiran langsung dipercaya dan diikuti, maka manusia akan mudah menjadi tawanan pikirannya sendiri, sedangkan apabila pikiran tersebut diamati dan diperiksa sebelum dipercaya, manusia mulai memiliki kebebasan untuk menentukan sikap berdasarkan pertimbangan yang lebih jernih.
Dengan demikian, Wening Cipta sesungguhnya merupakan latihan untuk membedakan antara kenyataan dan penafsiran terhadap kenyataan.
Pikiran Tidak Selalu Menunjukkan Kenyataan.
Salah satu sumber keruhnya Cipta adalah kebiasaan menyamakan apa yang dipikirkan dengan apa yang benar-benar terjadi.
Padahal, dalam banyak keadaan, manusia hanya melihat sebagian kecil dari suatu peristiwa kemudian membangun kesimpulan berdasarkan apa yang ada di dalam pikirannya sendiri.
Misalnya, seseorang bertemu dengan seorang kenalan yang biasanya ramah, tetapi pada suatu hari kenalan tersebut tidak menyapa dan justru berjalan melewatinya.
Dari keadaan tersebut kemudian muncul pikiran bahwa orang tersebut sedang marah atau tidak menyukainya. Padahal kenyataan yang benar-benar diketahui hanyalah bahwa orang tersebut tidak menyapa; sedangkan anggapan bahwa ia sedang marah atau tidak menyukai kita masih merupakan dugaan yang belum tentu benar.
Perbedaan antara kenyataan dan dugaan seperti inilah yang perlu disadari dalam Laku Wening Cipta, karena manusia sering kali tidak menderita akibat kenyataan yang sebenarnya terjadi, melainkan akibat kesimpulan yang dibangun sendiri terhadap kenyataan tersebut.
Oleh karena itu, ketika suatu pikiran muncul, manusia dapat melatih dirinya dengan mengajukan pertanyaan sederhana namun mendalam: “Apa yang sesungguhnya aku ketahui, dan apa yang hanya menjadi buah pikiranku?”
Pertanyaan tersebut dapat menjadi pintu awal bagi kejernihan Cipta.
Dari Pikiran Menjadi Rasa dan Tindakan.
Pikiran tidak berhenti sebagai pikiran karena apa yang terus-menerus dipikirkan dapat memengaruhi keadaan rasa, sedangkan rasa yang telah terbentuk kemudian dapat mendorong karsa untuk melakukan suatu tindakan.
Karena itu, sesuatu yang pada awalnya hanya berupa dugaan kecil dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih besar apabila tidak diperiksa sejak awal.
Seseorang yang mengira dirinya diremehkan dapat mulai merasa tersinggung, kemudian rasa tersinggung tersebut berkembang menjadi kemarahan, dan kemarahan akhirnya mendorongnya mengucapkan kata-kata yang menyakiti orang lain.
Setelah pertengkaran terjadi, ia mungkin semakin yakin bahwa dugaannya memang benar, padahal seluruh rangkaian peristiwa tersebut bisa saja bermula dari kesimpulan yang belum pernah diperiksa kebenarannya.
Dalam keadaan seperti itu, Cipta yang tidak wening dapat menjadi sumber keruhnya Rasa dan keblingering Karsa. Sebaliknya, apabila manusia mampu berhenti sejenak dan memeriksa pikirannya sebelum membiarkan pikiran tersebut menguasai rasa, maka terdapat kemungkinan yang lebih besar untuk menghasilkan tindakan yang sesuai dengan keadaan sebenarnya.
Karena itu, Wening Cipta bukan hanya perkara cara berpikir, tetapi juga merupakan bagian dari upaya menata keseluruhan kehidupan batin.
Memberikan Jeda Sebelum Memutuskan.
Salah satu latihan paling sederhana dalam Wening Cipta adalah memberikan jeda antara munculnya pikiran dengan keputusan untuk bertindak. Jeda tersebut tidak harus berlangsung lama, karena dalam banyak keadaan beberapa saat saja sudah cukup untuk membuat seseorang menyadari bahwa apa yang sedang muncul di dalam dirinya hanyalah dugaan, bukan kenyataan yang sudah pasti.
Ketika mendengar perkataan yang terasa menyakitkan, misalnya, seseorang dapat menahan diri untuk tidak langsung membalas sebelum memahami maksud perkataan tersebut.
Ketika menerima kabar mengenai seseorang, ia dapat memeriksa terlebih dahulu sumber dan kebenarannya sebelum menyebarkannya kepada orang lain.
Demikian pula ketika sedang berada dalam keadaan marah atau kecewa, seseorang dapat memberikan waktu kepada dirinya sendiri agar keputusan yang diambil tidak semata-mata merupakan hasil dari gejolak rasa yang sedang berlangsung.
Jeda semacam itu tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya memiliki makna yang dalam karena pada saat itulah manusia mulai belajar bahwa dirinya tidak harus tunduk kepada setiap dorongan yang muncul di dalam batinnya.
Wening Cipta dan Kebiasaan Menghakimi.
Kebiasaan menghakimi sering kali lahir karena manusia merasa sudah mengetahui sesuatu secara utuh, padahal pengetahuannya hanya berdasarkan sebagian kecil dari kenyataan.
Seseorang yang terlambat datang dapat dianggap tidak menghargai orang lain, seseorang yang diam dapat dianggap sombong, seseorang yang berbeda pendapat dapat dianggap sebagai lawan, dan seseorang yang memperoleh keberhasilan dapat dianggap hanya beruntung, padahal setiap kesimpulan tersebut masih membuka kemungkinan adanya kenyataan lain yang belum diketahui.
Laku Wening Cipta tidak mengajarkan manusia untuk berhenti menilai, sebab pertimbangan tetap diperlukan dalam kehidupan. Yang perlu ditinggalkan adalah kebiasaan membuat penilaian secara tergesa-gesa tanpa memberikan ruang bagi kenyataan untuk menjelaskan dirinya sendiri.
Semakin seseorang mampu menahan diri dari kebiasaan menghakimi, semakin terbuka kemungkinan baginya untuk memahami orang lain secara lebih utuh.
Dari sinilah kejernihan Cipta mulai berhubungan dengan ketulusan Rasa, karena manusia yang tidak tergesa-gesa menilai akan lebih mudah memahami keadaan sebelum menentukan sikap.
Pengalaman Masa Lalu dan Prasangka.
Pikiran manusia juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman yang pernah dialaminya. Pengalaman tersebut memang dapat menjadi sumber pembelajaran, tetapi apabila tidak disadari, pengalaman masa lalu dapat berubah menjadi ukuran untuk menilai semua keadaan baru.
Seseorang yang pernah dikhianati mungkin menjadi lebih mudah curiga kepada orang lain. Seseorang yang pernah direndahkan mungkin menjadi lebih peka terhadap perkataan yang sebenarnya tidak bermaksud merendahkan. Seseorang yang pernah mengalami kegagalan mungkin selalu membayangkan kemungkinan buruk ketika menghadapi kesempatan baru.
Pengalaman semacam itu tidak perlu disangkal, karena pengalaman memang merupakan bagian dari perjalanan hidup.
Namun, manusia perlu menyadari bahwa pengalaman masa lalu adalah pengalaman masa lalu, sedangkan keadaan yang sedang dihadapi merupakan keadaan yang baru.
Apabila keduanya selalu disamakan, Cipta akan sulit melihat kenyataan dengan jernih. Wening Cipta mengajarkan agar pengalaman dijadikan piwulangan, bukan dijadikan prasangka yang menguasai cara melihat kehidupan.
Tidak Semua Pikiran Harus Diikuti.
Manusia tidak selalu dapat menentukan pikiran apa yang pertama kali muncul di dalam dirinya, tetapi manusia dapat belajar menentukan apa yang akan dilakukan setelah pikiran tersebut muncul.
Kesadaran ini penting, karena sering kali seseorang merasa bahwa ia harus mengikuti setiap pikiran yang datang, padahal pikiran hanyalah salah satu bagian dari proses batin dan tidak selalu harus berakhir menjadi tindakan.
Ketika muncul keinginan untuk membalas, seseorang dapat memilih untuk tidak membalas. Ketika muncul dugaan buruk, ia dapat memilih untuk memeriksanya. Ketika muncul keinginan untuk mengucapkan sesuatu yang menyakitkan, ia dapat memilih untuk diam sampai pikirannya kembali jernih.
Kemampuan untuk memilih tersebut merupakan bagian penting dari pengendalian diri. Manusia tidak lagi sekadar bereaksi terhadap apa yang muncul di dalam dirinya, tetapi mulai memiliki kesadaran untuk menentukan bagaimana ia akan merespons keadaan.
Wening Cipta sebagai Laku Sehari-hari.
Laku Wening Cipta tidak membutuhkan tempat khusus, karena latihan ini justru dapat dilakukan di tengah kehidupan sehari-hari, terutama ketika manusia berhadapan dengan keadaan yang memancing penilaian, kemarahan, ketakutan, atau kecurigaan.
Setiap peristiwa yang menggugah batin dapat dijadikan kesempatan untuk melihat bagaimana Cipta bekerja di dalam diri.
Ketika muncul pikiran tentang seseorang, periksa apakah pikiran tersebut berdasarkan kenyataan atau hanya dugaan. Ketika mendengar berita, periksa apakah berita tersebut benar sebelum mempercayainya.
Ketika merasa tersinggung oleh perkataan orang lain, periksa apakah maksud yang kita tangkap memang sama dengan maksud yang sebenarnya. Ketika ingin mengambil keputusan karena emosi, berikan kesempatan kepada diri sendiri untuk melihat keadaan dengan lebih tenang.
Dengan latihan yang terus dilakukan tanpa bosan, manusia secara perlahan membangun kebiasaan untuk tidak tergesa-gesa mempercayai setiap isi pikirannya.
Wening Cipta sebagai Jalan Pambeninging Dhiri.
Dalam kerangka Kawruh Sejati Uttamopadesa, pambeninging dhiri bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu waktu, melainkan laku yang berlangsung sepanjang kehidupan karena selama manusia masih berhadapan dengan pengalaman, keinginan, perubahan keadaan, dan hubungan dengan sesama, selama itu pula Cipta perlu terus dijaga agar tidak mudah keruh.
Wening Cipta tidak menuntut manusia menjadi pribadi yang tidak pernah memiliki prasangka, kemarahan, atau pikiran yang keliru, tetapi mengajarkan keberanian untuk menyadari ketika hal tersebut muncul dan kemudian memeriksanya sebelum berkembang menjadi rasa serta tindakan.
Di sinilah letak pentingnya kesadaran, karena kejernihan bukan diukur dari tidak adanya pikiran yang keruh, melainkan dari kemampuan seseorang untuk mengenali dan membersihkannya.
Pada akhirnya, manusia yang belajar Wening Cipta akan semakin memahami bahwa tidak semua yang dipikirkan merupakan kenyataan, tidak semua dugaan layak dipercaya, dan tidak setiap dorongan harus diwujudkan menjadi tindakan. Semakin mampu seseorang memberikan jarak antara pikiran dan tindakan, semakin besar pula kesempatan baginya untuk memilih jalan yang lebih tepat.
Wening Cipta dengan demikian merupakan salah satu dasar penting dalam pembentukan watak, karena dari Cipta yang lebih jernih dapat tumbuh Rasa yang lebih tertata dan Karsa yang lebih terkendali.
Pambeninging Cipta bukan usaha untuk menjadikan manusia tanpa pikiran, melainkan usaha untuk menjadikan manusia mampu melihat pikirannya sendiri dengan lebih jernih, sehingga apa yang dipikirkan tidak lagi menjadi penguasa dirinya, tetapi menjadi bagian dari kesadaran yang dapat diamati, diperiksa, dan diarahkan menuju laku yang becik.
Penutup.
Laku Wening Cipta pada akhirnya mengajak manusia untuk mengenali satu kenyataan penting dalam perjalanan hidupnya, yaitu bahwa apa yang muncul di dalam pikiran tidak selalu sama dengan kenyataan yang sedang dihadapi.
Dengan kesadaran tersebut, manusia belajar untuk tidak tergesa-gesa mempercayai dugaan, tidak mudah menghakimi, dan tidak menjadikan setiap dorongan pikiran sebagai alasan untuk bertindak.
Dari kebiasaan mengawasi Cipta inilah tumbuh ruang bagi kejernihan, sehingga manusia dapat melihat keadaan dengan lebih tenang dan menentukan laku berdasarkan kenyataan, bukan semata-mata berdasarkan apa yang sedang dibentuk oleh pikirannya sendiri.
Buka Quote ....
“Wening Cipta, adalah keadaan ketika daya pikir seseorang tidak mudah dikuasai oleh prasangka, dugaan, ketakutan, atau kepentingan pribadi sehingga ia mampu melihat sesuatu berdasarkan kenyataan yang lebih utuh.”
- Lestari Uttamopadesa -
FAQ - Laku Weninging Cipta.
Apa yang dimaksud dengan Laku Wening Cipta?
Laku Wening Cipta adalah latihan untuk mengamati dan memeriksa pikiran sebelum pikiran tersebut dipercaya sepenuhnya atau diwujudkan menjadi ucapan dan tindakan. Laku ini bertujuan agar manusia tidak mudah dikuasai prasangka, dugaan, ketakutan, maupun kepentingan pribadi yang dapat mengaburkan pandangan terhadap kenyataan.
Apakah Wening Cipta berarti mengosongkan pikiran?
Tidak, karena Wening Cipta bukan usaha untuk menghilangkan pikiran, melainkan usaha untuk memahami bahwa pikiran yang muncul belum tentu merupakan kenyataan. Manusia tetap menggunakan pikiran untuk belajar, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan, tetapi tidak lagi secara tergesa-gesa mengikuti setiap pikiran yang muncul.
Mengapa pikiran perlu diawasi?
Pikiran dapat mempengaruhi Rasa dan Karsa sehingga dugaan yang tidak diperiksa dapat berkembang menjadi perasaan negatif dan akhirnya mendorong tindakan yang tidak tepat. Dengan mengawasi pikiran, manusia memperoleh kesempatan untuk membedakan kenyataan dengan penafsiran pribadinya sebelum menentukan sikap.
Bagaimana cara melatih Wening Cipta?
Latihan sederhana dapat dilakukan dengan memberikan jeda sebelum berbicara atau bertindak, kemudian bertanya kepada diri sendiri mengenai dasar pikiran tersebut, terutama dengan membedakan apa yang benar-benar diketahui dari apa yang hanya diduga atau disimpulkan berdasarkan pengalaman pribadi.
Apakah Wening Cipta berarti tidak boleh menilai orang lain?
Tidak, karena penilaian tetap diperlukan dalam kehidupan, tetapi penilaian hendaknya dilakukan berdasarkan kenyataan yang cukup dan tidak semata-mata berdasarkan prasangka. Wening Cipta mengajarkan agar seseorang tidak tergesa-gesa menganggap penilaiannya sebagai kebenaran sebelum memiliki dasar yang memadai.
Apa hubungan Wening Cipta dengan Cipta, Rasa, dan Karsa?
Cipta, Rasa, dan Karsa saling berkaitan dalam kehidupan manusia. Cipta dapat memengaruhi Rasa, Rasa dapat memengaruhi Karsa, dan Karsa diwujudkan melalui tindakan. Oleh karena itu, kejernihan Cipta menjadi salah satu dasar penting untuk menata rasa dan mengarahkan kehendak menuju tindakan yang lebih baik.
Artikel-artikel menarik lainnya :


Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan pesan yang sopan, demi perkembangan websiteblog ini. Salam sahabat.