Sembilan Cara Memahami Kawruh Sejati
Pendahuluan.
Manusia dapat memiliki banyak pengetahuan, membaca banyak buku, memahami berbagai ajaran, dan menguasai beragam pemikiran. Namun, banyaknya pengetahuan belum tentu membuat seseorang mampu melihat kehidupan dengan benar. Ada perbedaan antara mengetahui kata, memahami gagasan, mengalami makna, dan benar-benar melihat kenyataan.
Dalam kerangka Uttamopadesa, perbedaan tersebut penting untuk dipahami melalui hubungan antara Kawruh Sejati, Kawruh Kasunyatan, dan Nawa Pamawas Kawruh Sejati.
Kawruh Kasunyatan merupakan upaya manusia untuk memahami kenyataan melalui pengamatan, pemikiran, rasa, dan laku.
Sementara itu, Kawruh Sejati dipahami sebagai pengetahuan yang bersumber dari Prabhawaning Panguripan, yang menjadi pepadhang atau penerang bagi pamawas manusia.
Di antara keduanya terdapat persoalan penting: bagaimana manusia dapat menyadari dan memahami Kawruh Sejati tanpa terjebak oleh prasangka, keinginan pribadi, emosi, maupun keterbatasan pemikirannya sendiri?
Jawabannya dirumuskan melalui Nawa Pamawas Kawruh Sejati, yaitu sembilan cara pandang yang membantu manusia menyiapkan dirinya ketika berusaha memahami Kawruh Sejati.
Nawa Pamawas bukan Kawruh Sejati itu sendiri. Nawa Pamawas adalah cara menggunakan perangkat batin agar proses memahami menjadi lebih jernih, teliti, dan tidak mudah dikuasai oleh pandangan pribadi.
Buka Quote ....
“Kang katon durung mesthi kasunyatan, kang dirasa durung mesthi bebener.
Mula tansah mawas, ngresiki cipta, weningake rasa, lan nata karsa.”
- Lestari Uttamopadesa -
1. Pamawas Sapa Aku?
Pamawas pertama dimulai dengan pertanyaan sederhana tetapi sangat mendalam: “Siapa aku yang sejati?”
Pertanyaan ini tidak berhenti pada nama, pekerjaan, keluarga, kedudukan, atau identitas sosial. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan manusia, tetapi bukan keseluruhan dari diri.
Manusia perlu melihat apa yang berlangsung di dalam dirinya: mengapa ia berpikir tertentu, mengapa ia marah, takut, kecewa, ingin dipuji, atau merasa lebih baik daripada orang lain.
Dengan memahami diri sebagai subjek yang sedang mengamati, manusia mulai menyadari bahwa pemikiran dan perasaannya dapat mempengaruhi cara melihat kenyataan.
Karena itu, memahami Kawruh Sejati perlu diawali dengan mengenali siapa yang sedang memahami.
2. Pamawas Sangkaning Panguripan.
Setelah melihat dirinya sendiri, manusia diajak memperluas pandangan kepada sangkaning panguripan, yaitu asal dan sumber kehidupan.
Manusia tidak menciptakan kehidupannya sendiri. Ia lahir, tumbuh, berubah, dan menjadi bagian dari kehidupan yang jauh lebih luas daripada kepentingan pribadinya.
Pamawas ini menggeser pandangan dari “aku” menuju hubungan antara diri dan kehidupan.
Kesadaran terhadap sangkaning panguripan membuat manusia tidak lagi melihat kehidupan semata-mata sebagai sarana memenuhi keinginan pribadi. Cakrawala pandang menjadi lebih luas dan muncul kesadaran bahwa dirinya merupakan bagian dari keseluruhan kehidupan.
Dengan demikian, pemahaman terhadap Kawruh Sejati tidak berhenti pada kepentingan diri, tetapi mulai menyentuh hubungan manusia dengan kehidupan.
3. Pamawas Cipta, Rasa, lan Karsa.
Manusia memahami kehidupan melalui tiga perangkat batin yang saling berkaitan: cipta, rasa, dan karsa.
Cipta berhubungan dengan pemikiran. Rasa berkaitan dengan penghayatan dan perasaan. Karsa merupakan dorongan yang menggerakkan manusia menuju tindakan.
Ketiganya tidak berdiri sendiri. Apa yang dipikirkan dapat memengaruhi rasa. Rasa dapat memengaruhi keinginan. Keinginan kemudian dapat diwujudkan menjadi tindakan.
Karena itu, proses memahami Kawruh Sejati tidak cukup hanya menggunakan pemikiran. Manusia juga perlu memperhatikan kondisi rasa dan arah karsanya.
Cipta menjadi alat untuk melihat dan memahami. Rasa menjadi alat untuk menghayati. Karsa menjadi daya untuk menjalani sekaligus menguji pemahaman melalui kehidupan.
4. Pamawas Resiking Cipta.
Pemikiran yang dipenuhi prasangka, kepentingan pribadi, kesombongan, ketakutan, atau kebencian dapat membuat manusia melihat sesuatu bukan sebagaimana adanya, melainkan sebagaimana yang ingin dilihat.
Inilah pentingnya Resiking Cipta.
Membersihkan cipta bukan berarti berhenti berpikir. Justru manusia perlu semakin teliti terhadap pikirannya sendiri.
Ketika muncul suatu kesimpulan, manusia perlu bertanya: apakah ini kenyataan atau hanya dugaan? Apakah ada kepentingan pribadi di dalamnya? Apakah saya sedang mencari kebenaran atau sekadar membenarkan pendapat sendiri?
Pertanyaan semacam itu membantu mengurangi kekaburan dalam cipta.
Resiking cipta menjadi dasar penting agar manusia tidak mudah menganggap pemikiran pribadinya sebagai Kawruh Sejati.
5. Pamawas Weninging Rasa.
Selain pikiran, keadaan rasa juga dapat mempengaruhi pemahaman. Rasa takut dapat membuat sesuatu yang sederhana terlihat mengancam. Rasa marah dapat membuat perkataan biasa terasa sebagai serangan. Kekecewaan dapat membuat manusia melihat seseorang hanya melalui pengalaman buruknya.
Karena itu diperlukan Weninging Rasa.
Weninging rasa bukan berarti menghilangkan perasaan. Semua perasaan merupakan bagian dari pengalaman manusia. Yang perlu dilakukan adalah menyadari perasaan tanpa langsung diperbudak olehnya.
Ketika marah, manusia belajar melihat kemarahannya. Ketika takut, ia melihat rasa takut tersebut. Ketika kecewa, ia mencoba memahami sumber kekecewaannya.
Dengan cara demikian, manusia mulai membedakan antara apa yang dirasakan dan apa yang sebenarnya terjadi.
Kemampuan membedakan keduanya sangat penting agar rasa tidak berubah menjadi kabut yang menghalangi pamawas.
6. Pamawas Nata Karsa.
Karsa merupakan daya yang mendorong manusia untuk bertindak. Namun, karsa juga dapat membelokkan pemahaman apabila dikendalikan oleh kepentingan pribadi.
Seseorang mungkin memahami sesuatu secara baik melalui cipta dan rasa, tetapi kemudian memilih pemahaman yang paling sesuai dengan keinginannya.
Karena itu diperlukan Nata Karsa.
Manusia perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apakah saya sungguh ingin memahami, atau hanya ingin menemukan pembenaran? Apakah saya mencari Kawruh Sejati, atau mencari pengetahuan yang sesuai dengan keinginan saya?
Karsa yang tertata membuat manusia lebih bersedia menerima kenyataan meskipun kenyataan tersebut tidak selalu sesuai dengan keinginannya.
Di sinilah kejujuran batin menjadi penting. Pemahaman tidak boleh dijadikan alat untuk membenarkan kepentingan pribadi.
7. Pamawas Laku.
Pemahaman yang benar perlu memiliki kesempatan untuk diuji dalam kehidupan. Tempat pengujiannya adalah laku.
Laku dalam Nawa Pamawas bukan sekadar kumpulan aturan mengenai apa yang harus dilakukan. Laku menjadi cermin untuk melihat apakah pemahaman benar-benar telah mengubah kehidupan.
Jika seseorang memahami kesabaran, kehidupannya akan memperlihatkan bagaimana ia menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Jika memahami kejujuran, laku akan memperlihatkan apakah ia tetap jujur ketika tidak ada orang lain yang melihat.
Karena itu, laku menjadi salah satu cara untuk menguji kedalaman pemahaman.
Pengetahuan yang hanya membuat seseorang pandai berbicara tetapi tidak mengubah cara hidup perlu dipertanyakan kembali.
8. Pamawas Dhiri.
Pemahaman manusia selalu dapat berkembang. Pemikiran berubah, rasa berubah, karsa berubah, dan pengalaman baru dapat memperluas pemahaman.
Karena itu diperlukan Pamawas Dhiri, yaitu kemampuan untuk terus melihat perkembangan diri.
Manusia dapat bertanya: apa yang saya pahami hari ini? Apakah pandangan saya semakin jernih? Apakah masih ada kepentingan pribadi yang memengaruhi pemahaman? Apakah saya masih mudah terbawa emosi? Apakah kehidupan saya selaras dengan apa yang saya pahami?
Mawas diri bukan untuk menyalahkan diri sendiri. Tujuannya adalah mengenali proses perubahan.
Dengan mawas diri, manusia tidak mudah merasa bahwa dirinya telah sampai pada titik akhir pemahaman. Setiap pemahaman baru masih dapat diperiksa dan diperdalam.
9. Pamawas Pambuktian.
Pamawas terakhir adalah Pamawas Pambuktian.
Tujuannya adalah membedakan antara pemahaman yang semakin mendekati kenyataan dengan pandangan yang sebenarnya hanya merupakan pendapat pribadi.
Perasaan “saya sudah mengerti” tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang benar-benar memahami.
Karena itu pemahaman perlu diperiksa kembali.
Apakah dapat dijelaskan dengan jernih? Apakah bebas dari kepentingan pribadi? Apakah cipta, rasa, dan karsa telah tertata? Apakah pemahaman tersebut dapat diuji melalui laku?
Apakah menghasilkan perubahan nyata dalam cara melihat kehidupan?
Pambuktian dalam konteks ini bukan hanya bukti dari luar. Pambuktian juga berupa keselarasan antara cipta, rasa, karsa, dan laku.
Semakin dalam pemahaman seseorang, seharusnya semakin hati-hati ia menyatakan bahwa dirinya telah mengetahui kebenaran.
Hubungan Kawruh Sejati, Kawruh Kasunyatan, dan Nawa Pamawas.
Ketiga istilah tersebut memiliki kedudukan yang berbeda.
Kawruh Sejati adalah pepadhang yang menjadi sumber penerangan bagi pemahaman.
Kawruh Kasunyatan merupakan usaha manusia untuk memahami kenyataan melalui pengamatan, pemikiran, rasa, dan laku.
Sedangkan Nawa Pamawas Kawruh Sejati merupakan cara untuk menyiapkan dan menggunakan perangkat pamawas agar manusia dapat mendekati pemahaman terhadap Kawruh Sejati secara lebih jernih.
Dengan demikian, Nawa Pamawas tidak boleh dianggap sebagai Kawruh Sejati itu sendiri.
Nawa Pamawas lebih tepat dipahami sebagai jalan untuk melihat.
Seperti kaca yang perlu dibersihkan agar dapat memperlihatkan sesuatu dengan jelas, demikian pula cipta, rasa, dan karsa perlu ditata agar pamawas tidak dipenuhi kabut pribadi.
Penutup.
Nawa Pamawas Kawruh Sejati mengajarkan bahwa memahami bukan sekadar menerima pengetahuan. Memahami adalah proses panjang untuk melihat diri, melihat kehidupan, mengenali perangkat batin, membersihkan cipta, menjernihkan rasa, menata karsa, menguji pemahaman melalui laku, melakukan mawas diri, dan akhirnya memeriksa kembali apa yang telah dipahami.
Tujuan akhirnya bukan membuat manusia merasa paling tahu.
Sebaliknya, semakin dalam seseorang melihat, semakin ia menyadari bahwa pemahamannya masih perlu diperiksa dan diperdalam.
Karena itu, inti Nawa Pamawas dapat diringkas dalam satu sikap: jangan tergesa-gesa menganggap pandangan pribadi sebagai Kawruh Sejati.
Manusia perlu terus melihat, meneliti, membersihkan cipta, menjernihkan rasa, menata karsa, dan menguji pemahamannya melalui kehidupan.
Dengan cara tersebut, proses mencari pemahaman menjadi lebih jujur, wening, dan terbuka terhadap kenyataan.
FAQ - Nawa Pamawas Kawruh Sejati.
1. Apa itu Nawa Pamawas Kawruh Sejati?
Nawa Pamawas Kawruh Sejati adalah sembilan cara pandang untuk membantu manusia menyiapkan diri dalam memahami Kawruh Sejati secara lebih jernih dan tidak mudah dikuasai oleh prasangka pribadi.
2. Apakah Nawa Pamawas sama dengan Kawruh Sejati?
Tidak. Kawruh Sejati merupakan pepadhang atau sumber penerangan bagi pemahaman, sedangkan Nawa Pamawas adalah cara untuk menyiapkan dan menggunakan pamawas ketika mendekati pemahaman tersebut.
3. Apa hubungan Nawa Pamawas dengan Kawruh Kasunyatan?
Kawruh Kasunyatan merupakan upaya manusia memahami kenyataan. Nawa Pamawas menjadi salah satu cara untuk membuat proses pemahaman tersebut lebih jernih, teliti, dan tidak mudah dipengaruhi oleh kepentingan pribadi.
4. Mengapa cipta, rasa, dan karsa jadi penting?
Karena ketiganya merupakan perangkat batin yang saling mempengaruhi. Pikiran dapat memengaruhi rasa, rasa dapat memengaruhi keinginan, dan keinginan dapat diwujudkan dalam tindakan.
5. Apakah Nawa Pamawas mengajarkan untuk berhenti berpikir?
Tidak. Justru Nawa Pamawas mendorong manusia untuk berpikir lebih jernih, sekaligus menyadari keterbatasan dan kemungkinan kekeliruan dalam pikirannya sendiri.
6. Mengapa laku digunakan untuk menguji pemahaman?
Karena pemahaman yang benar seharusnya memiliki pengaruh nyata terhadap cara manusia menjalani kehidupan. Laku menjadi cermin untuk melihat apakah pengetahuan benar-benar telah dipahami secara mendalam.
7. Apa tujuan Pamawas Pambuktian?
Pamawas Pambuktian bertujuan memeriksa kembali apakah suatu pemahaman benar-benar memiliki dasar yang kuat atau hanya merupakan pandangan pribadi yang belum diuji.
8. Apa hasil akhir dari Nawa Pamawas?
Hasil akhirnya bukan perasaan bahwa seseorang telah mengetahui semuanya. Justru manusia diharapkan semakin wening, rendah hati dalam memahami, dan terus bersedia menguji pandangannya.
*Sumber artikel : "SERAT NAWA PAMAWAS KAWRUH SEJATI" karya Dhimas Purnomo.
Artikel-artikel menarik lainnya :


Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan pesan yang sopan, demi perkembangan websiteblog ini. Salam sahabat.