PENGHAYAT KEPERCAYAAN TIDAK MENGEJAR HAL GAIB

lestariku penghayat

Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak menjadikan fenomena gaib sebagai tujuan utama dalam laku penghayatan. Berbagai pengalaman batin, penglihatan yang tidak lazim, firasat, kemampuan tertentu, maupun peristiwa-peristiwa yang dianggap luar biasa bukanlah tolok ukur keberhasilan seseorang dalam menempuh jalan penghayatan. Semua itu dapat terjadi sebagai bagian dari pengalaman hidup seseorang, tetapi tidak pernah menjadi ukuran kemuliaan batin ataupun kedekatan seseorang dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Hakikat penghayatan terletak pada perubahan diri yang berlangsung secara nyata dan berkesinambungan. Perubahan tersebut diwujudkan melalui penyucian cipta, penataan rasa, serta pelurusan karsa agar selaras dengan nilai-nilai kebajikan. Cipta yang semula dipenuhi prasangka, keserakahan, kemarahan, dan kebencian dibimbing menjadi jernih, bijaksana, dan mampu membedakan yang baik dari yang buruk. Rasa yang sebelumnya mudah dikuasai iri hati, dendam, atau keangkuhan diarahkan menuju ketenteraman, kasih sayang, tenggang rasa, dan kepekaan terhadap penderitaan sesama. Sementara itu, karsa dibina agar senantiasa melahirkan kehendak yang luhur, sehingga setiap tindakan membawa manfaat bagi diri sendiri, sesama manusia, alam, dan kehidupan secara keseluruhan.

Oleh sebab itu, seorang Penghayat Kepercayaan tidak mengejar kesaktian, kemampuan supranatural, ataupun pengakuan dari orang lain. Yang lebih penting adalah membangun watak yang berbudi luhur. Kejujuran, kesabaran, kerendahan hati, tanggung jawab, kesediaan memaafkan, dan kepedulian terhadap sesama merupakan buah nyata dari laku penghayatan. Nilai-nilai tersebut jauh lebih berharga daripada kemampuan memperlihatkan hal-hal yang menakjubkan tetapi tidak membawa perubahan dalam perilaku.

Masyarakat Jawa sejak dahulu telah mewariskan pitutur luhur yang sejalan dengan pandangan tersebut, yaitu "Ajining diri ana ing lathi, ajining raga ana ing busana." Artinya, harga diri seseorang tercermin dari tutur katanya, sedangkan kehormatan lahirnya tampak dari cara ia membawa dirinya. Makna yang terkandung dalam peribahasa ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kesaktian, kekuatan gaib, ataupun kemampuan yang luar biasa, melainkan oleh budi pekerti, ucapan yang santun, dan perilaku yang mencerminkan keluhuran hati. Seseorang yang mampu menjaga perkataan dan tindakannya sesungguhnya telah menunjukkan hasil dari penghayatan yang benar.

Pitutur Jawa lainnya mengatakan, "Ngèlmu iku kalakone kanthi laku." Terjemahannya, ilmu hanya dapat diwujudkan melalui pelaksanaan dalam kehidupan. Peribahasa ini mengajarkan bahwa pengetahuan, keyakinan, maupun ajaran yang luhur tidak akan memiliki makna apabila berhenti sebagai pemahaman di dalam pikiran. Nilainya baru tampak ketika diwujudkan dalam sikap hidup sehari-hari. Penghayatan bukan sekadar mengetahui kebaikan, melainkan melaksanakan kebaikan itu secara konsisten dalam setiap perkataan, keputusan, dan perbuatan.

Demikian pula pitutur "Jer basuki mawa bea." Artinya, setiap keberhasilan dan kebaikan memerlukan pengorbanan, ketekunan, dan usaha. Perubahan cipta, rasa, dan karsa tidak berlangsung dalam waktu singkat. Semua memerlukan latihan yang terus-menerus, keberanian untuk mengakui kekurangan diri, kesediaan menerima nasihat, serta keteguhan hati untuk memperbaiki kesalahan. Laku penghayatan merupakan perjalanan sepanjang kehidupan, bukan sesuatu yang selesai dalam hitungan hari atau bulan.

Dalam kehidupan sehari-hari, keberhasilan seorang Penghayat Kepercayaan dapat dilihat dari kemampuannya menghadapi berbagai persoalan hidup dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih. Ketika menghadapi keberhasilan, ia tidak menjadi sombong. Ketika mengalami kegagalan, ia tidak mudah putus asa. Saat memperoleh pujian, ia tetap rendah hati, dan ketika menerima celaan, ia tetap mampu mengendalikan diri. Sikap-sikap seperti inilah yang menunjukkan bahwa cipta, rasa, dan karsanya telah mengalami pematangan.

Fenomena gaib, apabila terjadi, dipandang sebagai sesuatu yang tidak perlu dibanggakan ataupun dijadikan tujuan hidup. Penghayat Kepercayaan menyadari bahwa manusia sering kali dapat teralihkan oleh hal-hal yang menakjubkan sehingga melupakan tujuan utama penghayatan, yaitu memperbaiki diri. Oleh karena itu, perhatian lebih diarahkan kepada pembentukan watak daripada pencarian pengalaman yang luar biasa. Sebab, perubahan batin yang melahirkan perilaku luhur akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar, baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat.

Pada akhirnya, hakikat penghayatan adalah menghadirkan manusia yang semakin matang dalam berpikir, semakin halus dalam merasakan, dan semakin bijaksana dalam bertindak. Ketika cipta menjadi jernih, rasa menjadi bening, dan karsa menjadi luhur, maka penghayatan tidak lagi berhenti sebagai keyakinan, melainkan telah menjelma menjadi jalan hidup. Inilah tujuan utama Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu membentuk manusia berbudi utama yang senantiasa mengabdikan kehidupannya kepada Tuhan melalui perbuatan baik, kasih sayang, tanggung jawab, serta pengabdian kepada sesama dan kelestarian alam.



Komentar