Bukan Banyaknya Laku, Melainkan Keluhuran Perilaku yang Melahirkan Keselarasan
Dalam perjalanan batin, banyak orang mengira bahwa semakin banyak ritual yang dilakukan, semakin tinggi pula tingkat spiritualitasnya. Berbagai bentuk laku tapa, semadi, tirakat, puasa, ziarah, maupun upacara sering dipandang sebagai ukuran kedalaman batin seseorang. Padahal, benarkah demikian?
Ajaran luhur mengingatkan bahwa keselarasan hidup tidak lahir dari banyaknya laku, melainkan dari baiknya perilaku. Inilah makna mendalam dari ungkapan Jawa:
"Dudu akehing laku, nanging beciking lampah kang nglairake kasalarasan."
Kalimat sederhana ini mengandung pesan yang sangat relevan bagi kehidupan manusia modern. Di tengah kesibukan mengejar pengalaman spiritual, jangan sampai kita melupakan tujuan utamanya, yaitu menjadi manusia yang lebih baik.
Ritual Bukan Tujuan Akhir
Upacara dan berbagai bentuk laku batin memiliki nilai tersendiri. Semuanya dapat menjadi sarana untuk melatih kedisiplinan, ketekunan, dan pengendalian diri. Namun, sarana tidak boleh disalahartikan sebagai tujuan.
Seseorang dapat mengikuti banyak ritual, tetapi masih mudah marah, iri hati, sombong, atau menyakiti orang lain. Sebaliknya, ada orang yang menjalani kehidupan sederhana tanpa banyak ritual, tetapi tutur katanya lembut, tindakannya jujur, dan selalu membawa manfaat bagi sesama.
Lalu, siapakah yang lebih dekat dengan keselarasan?
Pertanyaan ini mengajak kita melihat kembali bahwa ukuran kemajuan batin bukanlah apa yang tampak dari luar, melainkan perubahan yang terjadi di dalam diri dan tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Keselarasan Berawal dari Pembersihan Diri
Ajaran ini menegaskan bahwa keselarasan tumbuh melalui empat landasan utama.
Yang pertama adalah resiking cipta, yaitu pikiran yang bersih. Pikiran yang tidak dipenuhi prasangka, kebencian, keserakahan, ataupun keinginan untuk menguasai orang lain akan lebih mudah melihat kenyataan secara jernih.
Yang kedua adalah beninging rasa, yakni hati yang tenang dan tidak dikuasai gejolak emosi. Rasa yang bening mampu melahirkan kasih, empati, serta penghormatan kepada setiap makhluk.
Yang ketiga adalah santosing karsa, yaitu kemantapan kehendak. Karsa yang kokoh tidak mudah goyah oleh godaan, pujian, maupun kepentingan sesaat. Ia selalu mengarah pada kebaikan.
Landasan yang keempat adalah beciking lampah, yaitu tindakan nyata yang mencerminkan nilai-nilai luhur. Pada akhirnya, segala pengetahuan dan pengalaman batin hanya akan memiliki arti apabila diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Perilaku Adalah Cermin Keadaan Batin
Tidak sulit mengetahui kualitas batin seseorang. Kita cukup memperhatikan bagaimana ia memperlakukan orang lain.
Apakah ia tetap rendah hati ketika dipuji?
Apakah ia tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbuat curang?
Apakah ia tetap sabar ketika menghadapi orang yang berbeda pendapat?
Apakah ia tetap mampu menolong tanpa berharap balasan?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih bermakna daripada banyaknya simbol atau ritual yang pernah dijalani.
Batin yang bersih akan memancarkan perilaku yang baik secara alami. Ia tidak perlu berpura-pura terlihat bijaksana karena kebijaksanaan telah menjadi bagian dari dirinya.
Spiritualitas yang Hidup dalam Kehidupan
Keselarasan sejati tidak hanya hadir ketika seseorang berada di tempat sunyi atau sedang melakukan meditasi. Keselarasan justru diuji ketika ia kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
Di rumah, apakah ia menjadi anggota keluarga yang penuh kasih?
Di tempat kerja, apakah ia dapat dipercaya?
Di masyarakat, apakah kehadirannya membawa kedamaian?
Inilah spiritualitas yang hidup. Bukan spiritualitas yang hanya tampak pada saat mengikuti upacara, melainkan spiritualitas yang menyatu dengan setiap langkah kehidupan.
Setiap ucapan yang menenangkan, setiap tindakan yang adil, setiap pertolongan yang tulus, merupakan wujud nyata dari perjalanan batin yang berhasil.
Menjadi Manusia yang Selaras
Keselarasan bukanlah keadaan yang diperoleh dalam semalam. Ia merupakan hasil dari latihan yang terus-menerus untuk membersihkan pikiran, menjernihkan rasa, menguatkan kehendak, dan memperbaiki perilaku.
Semakin seseorang mampu mengurangi sifat egois, semakin ia dekat dengan ketenteraman. Semakin ia mampu mengendalikan amarah, semakin damai kehidupannya. Semakin ia mengutamakan kebajikan, semakin selaras ia dengan tatanan kehidupan.
Pada akhirnya, manusia tidak dinilai dari seberapa banyak ritual yang pernah dilakukan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ia hadirkan bagi sesama.
Renungkan Kembali Makna Laku
Ungkapan "Dudu akehing laku, nanging beciking lampah kang nglairake kasalarasan" mengajak kita merenungkan kembali arah perjalanan batin kita. Jangan sampai kesibukan menjalankan berbagai bentuk laku atau ritual membuat kita lupa pada tujuan utamanya, yaitu membentuk manusia yang berbudi luhur.
Apabila setiap hari kita berusaha membersihkan pikiran, menjernihkan perasaan, menguatkan tekad, serta membiasakan tindakan yang baik, maka tanpa disadari kita sedang menapaki jalan menuju keselarasan sejati.
Karena pada akhirnya, dunia tidak membutuhkan orang yang sekadar pandai berbicara tentang kebijaksanaan. Dunia lebih membutuhkan manusia yang menghadirkan kebijaksanaan itu dalam setiap langkah kehidupannya.
Bacalah kembali pesan ini perlahan. Setiap kali membacanya, sering kali akan muncul makna baru yang sebelumnya belum kita sadari. Sebab, ajaran tentang keselarasan bukan sekadar untuk dipahami, melainkan untuk direnungkan, dihayati, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah perjalanan batin yang sesungguhnya.

Baru paham, terima kasih 🙏🙏
BalasHapusUraian yang sarat makna ...🙏🙏🙏👍
BalasHapus