Dalam kerangka Uttamopadesa, Rasa Sejati bukanlah emosi, perasaan sesaat, atau dorongan batin yang berubah-ubah. Rasa Sejati adalah daya pangrasa batin yang telah bening dari pamrih pribadi, hawa nepsu, dan kabut cipta, sehingga mampu menangkap kasunyatan sebagaimana adanya.
Rasa Sejati berada lebih dalam daripada rasa senang, sedih, marah, atau takut. Ia muncul ketika cipta telah resik, rasa telah wening, dan karsa telah lurus. Pada keadaan itu, seseorang tidak lagi menilai segala sesuatu hanya berdasarkan kepentingan diri pribadi, melainkan berdasarkan kebenaran dan keselarasan dengan Sang Sumber Panguripan.
Dalam Uttamopadesa, Rasa Sejati memiliki beberapa ciri pokok:
1. Wening – bening, tidak dikuasai gejolak hawa nepsu.
2. Jujur – tidak menipu diri sendiri maupun orang lain.
3. Welas Asih – secara alami memancarkan kasih kepada seluruh makhluk.
4. Mawas – mampu membedakan mana yang sejati dan mana yang semu.
5. Manunggal – selaras antara cipta, rasa, dan karsa.
Rasa Sejati bukan sesuatu yang diperoleh dari luar, melainkan telah ada sebagai benih dalam diri setiap manusia. Namun, benih itu sering tertutup oleh kepentingan pribadi, kesombongan, iri, dengki, dan berbagai ikatan batin. Oleh sebab itu, seluruh laku Uttamopadesa—mulai dari ngreresiki cipta, ngreresiki rasa, ngendhaleni hawa nepsu, nganti laku samadhi—sesungguhnya bertujuan menyingkap kembali Rasa Sejati tersebut.
Ketika Rasa Sejati mulai mekar, seseorang tidak lagi bergantung pada penilaian dunia. Ia menjadi mudah mengampuni, tidak gemar menghakimi, rendah hati ketika dipuji, tetap teguh ketika dicela, dan mampu merasakan penderitaan makhluk lain sebagai panggilan untuk berbuat kebajikan.
Pada tataran yang lebih luhur, Rasa Sejati menjadi jembatan antara cetana manusia dan Jatining Panguripan. Melalui Rasa Sejati, manusia tidak hanya memahami ajaran secara intelektual, tetapi juga ngraosaken kasunyatan—mengalami kebenaran itu secara langsung dalam batinnya. Di sinilah kawruh berubah menjadi panguripan, dan pengetahuan berubah menjadi kebijaksanaan.
Rumusan Uttamopadesa:
"Rasa Sejati iku pangrasa kang wus resik saka pamrih, wening saka hawa nepsu, lan madhangi kasunyatan; lumantar rasa iku janma saged nyawiji karo sih, kawicaksanan, lan karsaning Sang Sumber Panguripan."
Dengan demikian, dalam Uttamopadesa, Rasa Sejati dapat didefinisikan sebagai:
Kesadaran pangrasa yang murni, bening, dan selaras dengan Kasunyatan, sehingga menjadi sumber welas asih, kebijaksanaan, dan tuntunan hidup menuju Sang Sumber Panguripan.
BACA JUGA ARTIKEL INI:

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan pesan yang sopan, demi perkembangan websiteblog ini. Salam sahabat.