Masih terdapat anggapan di kalangan masyarakat bahwa Penghayat Kepercayaan merupakan penyembah batu, pohon, gunung, atau benda-benda tertentu. Pandangan tersebut muncul karena kurangnya pemahaman terhadap hakikat ajaran Penghayat Kepercayaan. Sesungguhnya, anggapan itu tidak tepat.
Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa meyakini adanya Sang Sumber Panguripan sebagai asal mula, penyangga, dan tujuan seluruh kehidupan. Keyakinan tersebut tidak ditujukan kepada benda-benda alam, melainkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang melampaui segala bentuk dan rupa.
Oleh karena itu, batu, pohon, mata air, gunung, atau tempat-tempat tertentu bukanlah objek penyembahan.
Dalam berbagai tradisi leluhur Nusantara, benda atau tempat tertentu terkadang dijadikan sarana pengingat, lambang, atau media untuk membangun keheningan batin. Sebagaimana sebuah bendera bukanlah negara, demikian pula sebuah batu bukanlah Tuhan. Nilai yang dihormati bukan terletak pada bendanya, melainkan pada makna yang dikandungnya sebagai pengingat akan kebesaran Sang Pencipta.
Penghayat Kepercayaan lebih menekankan pembinaan budi pekerti, kejernihan cipta, kelembutan rasa, dan keluhuran laku. Ukuran keberhasilan seorang penghayat bukanlah banyaknya ritual yang dilakukan, melainkan sejauh mana hidupnya memancarkan kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab, kesederhanaan, dan penghormatan kepada seluruh kehidupan.
Apabila seorang penghayat berziarah ke petilasan, sumber air, gunung, atau tempat yang dianggap memiliki nilai sejarah dan budaya, tujuan utamanya adalah mengenang perjalanan para leluhur, menumbuhkan rasa syukur, serta memperdalam perenungan. Kegiatan tersebut tidak berarti menyembah tempat itu. Sama halnya seseorang yang datang ke makam pahlawan untuk mengenang jasa-jasanya, penghormatan itu tidak menjadikan makam sebagai objek penyembahan.
Alam semesta dipandang sebagai perwujudan keteraturan ciptaan Tuhan. Karena itu, alam dihormati, dijaga, dan dilestarikan, bukan dipuja sebagai Tuhan. Sikap hormat terhadap alam justru merupakan bentuk tanggung jawab manusia kepada Sang Pencipta yang telah menganugerahkan kehidupan.
Dengan demikian, Penghayat Kepercayaan bukanlah penyembah batu atau benda-benda alam. Mereka adalah insan yang berusaha menghayati nilai-nilai luhur kehidupan, mengembangkan budi pekerti, serta mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui laku yang benar, hati yang bersih, dan pengabdian kepada sesama serta seluruh ciptaan.

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan pesan yang sopan, demi perkembangan websiteblog ini. Salam sahabat.